KAU
Tiga belas tahun yang lalu, separuh hatimu pergi. Dia tinggalkan malaikat kecil yang cantik untuk kau jaga. Hatimu belumlah sempurna utuh, tapi kau harus terus melangkah. Demi si malaikat kecil itu.
Sepeninggal sang bidadari, kau jaga si malaikat kecil itu seorang diri. Bekerja begitu keras untuk bahagiakan dia. Kau suapi dia, ajari dia, ajak dia bercanda, selalu berusaha agar dia tak bersedih, padahal belum tentu kau tertawa saat dia tertawa. Bisa saja, di saat si malaikat kecil itu tertawa, sosok sang bidadari menyeruak dalam pikiranmu dan rasa rindu itu hadir.
Roda waktu terus berputar. Si malaikat kecil tumbuh menjadi remaja. Dia mulai sibuk dengan dunia remajanya. Dia sibuk dengan urusannya mencari ilmu dan habiskan sisa waktunya dengan teman-temannya daripada denganmu. Padahal, kau selalu ada untuk si malaikat kecil, tapi dia tak selalu ada untukmu. Siapa lagi tempatnya mengaduh, meminta, merengek jika bukan kau? Dia hanya bagikan duka, bukan canda.
Dalam hatimu, kau rindukan sosok si malaikat kecilmu yang dulu. Yang dulu kau timang, kau suapi, kau rawat dengan penuh cinta kasih ketika dia terbaring lemah, kini telah berubah jadi remaja. Saat dia mulai mengenal sosok lain sepertimu, kau semakin terpinggirkan. Dia semakin asyik dengan dunia remajanya. Sosok itu berikan kebahagiaan, tapi tak seperti kebahagiaan yang kau berikan.
Ketika sosok itu hilang, dia akhirnya pulang. Pulang ke tempat ternyaman baginya. Dia kembali padamu. Namun dia tak seutuhnya kembali. Rasa yang belum pantas berkembang itu jadi bumerang baginya. Pada akhirnya, kaulah tempatnya mengaduh, menangis, marah. Tapi kau selalu bersedia dan bisa buat senyumnya kembali merekah.
Tiba saatnya dia harus berpisah denganmu demi citanya. Rasa bahagia dan sedih ada di hatimu. Dia kini selangkah lagi menjadi manusia. Tubuhmu semakin renta. Kau kini hanya sendiri lalui hari-harimu. Ketika sang bidadari pergi, kau masih punya si malaikat kecilmu. Lalu ketika si malaikat kecilmu ada nun jauh di sana, kau bersama siapa? Kau tak benar-benar sendiri. Sang Maha Pengasih selalu ada di dekatmu. Dia selalu menjagamu.
Di awal tahun Kuda Kayu fisikmu kalah oleh kehendakNya. Kau harus istirahat. Si malaikat kecil itu akhirnya tersadar. Dia akhirnya tahu, kau tak lagi muda. Usiamu kini sudah setengah abad. Dia menyesal. Mengapa dulu ia tak habiskan banyak waktu denganmu. Kini dia tak selalu bisa menjumpaimu secara nyata, namun dia selalu menjumpaimu dalam setiap untaian percakapannya denganNya. Seperti yang selalu kau lakukan selama ini.
Ketika ada waktu bertemu, si malaikat kecil itu ingin sekali berkata, "Terima kasih telah menjadikanku sampai seperti ini. Aku minta maaf. Aku belum bisa membuatmu merekahkan senyum indahmu seperti yang kau lakukan ketika aku jatuh. Terima kasih."
Tulisan ini, saya dedikasikan untuk Ayah saya.
Terima kasih telah mendidik saya dan mengajarkan hal-hal yang menakjubkan.
Even if you have a prince ur daddy always be your king. Almost burst in to tears, your daddy is a great man.. and you are going to be a great woman :')
BalasHapusThank you. You're going to be a great woman too :)
BalasHapus