Pada suatu ketika
Malam ini aku kembali melakukan hal itu. Bicara sendiri pada diriku. It may sounds like I'm insane, but ketika udah ngomong sama diri sendiri itu, rasanya enak. Kamu seakan punya temen buat ngobrol, padahal ngga ada.
Ok, malam ini aku cuma lagi mikir-mikir lagi tentang masalah dalam hidup. Bahwa dalam praktiknya, ilmu yang ada di bangku sekolah ga semuanya bisa diterapin. Butuh latihan tersendiri buat lulus these unpredictable problems.
Well, akhir-akhir ini aku mulai paham bahwa sebesar apapun ego yang kamu punya, ego besarmu itu ga akan membawamu pada kebahagiaan. Mungkin kamu akan bahagia, tapi sementara. Lagipula, siapa yang akan tahan pada orang berego besar? Dia pasti seorang yang benar-benar istimewa yang bisa menghadapi orang dengan ego yang besar. Walau sebenarnya, wajar kita punya ego. Tapi akan tak baik jika kita turuti si ego ini.
Yang ke-2 yaitu tentang hakikat berusaha. Kadang aku ingin jadi si bodoh yang selalu ingin berusaha menjadi pandai tanpa memperdulikan resiko yang menghadang. Maksudku, kadang ketika kita sudah tahu resiko apa yang ada di depan, kita malah takut untuk maju. Hanya terpaku pada kekhawatiran apakah usahaku akan berhasil atau tidak. Padahal bukankah untuk tahu hasilnya kita harus mencoba dulu? Jujur, kadang aku juga seperti itu, cemas dengan hasil. Aku tak siap dengan resiko yang akan kuterima jika hasilnya buruk. Tapi aku lupa, bahwa untuk bisa tahu nikmatnya libur, kita harus tahu betapa melelahkannya bekerja. Analoginya seperti itu. Untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan, kita perlu melewati fase "nelangsa" dahulu. Bukankah pelangi tak akan muncul jika tak ada hujan? Bukankah dalam hidup, kita butuh hal-hal tak meyenangkan agar tahu hal-hal yang menyenangkan. Hidup harus seimbang, kan?
Aku pernah membaca salah satu kalimat di salah satu novel yang ditulis oleh pengarang yang aku kagumi. "Berusahalah sebaik mungkin, kesuksesan akan mengikutimu." Nah, masalahnya, definisi sukses setiap orang berbeda. Terserah orang lain mendeskripsikan kata itu seperti apa, tapi buatku sukses itu ketika aku bisa membuat kedua orang tuaku bahagia dan aku bermanfaat bagi orang lain.
Bukankah manusia yang paling baik adalah yang bermanfaat bagi sesama?
Dan yang terakhir yaitu tentang kepercayaan dan berharap.
Sering ku dengar orang-orang dikecewakan oleh orang-orang yang mereka percayai. Mungkin karena mereka berharap orang tersebut akan menjaga kepercayaan itu, padahal berharap adalah salah satu pintu menuju kecewa. Aku sendiri pernah mengalaminya dan dari hal itu aku belajar untuk berharaplah pada hal-hal yang realistis. Kamu boleh berharap, asal kamu juga berusaha untuk mewujudkannya. Beda kalau kamu berharap pada orang lain. Kamu harus siap dengan resiko terburuk. Harapanmu tak terwujud. Intinya, pintar-pintarlah mengatur perasaan. Utamanya wanita. Mereka terkenal emosional.
Sekarang aku juga sedang belajar mengatur perasaan. Jujur, aku kadang ingin menjadi lelaki. Mereka berpikir atas logika, bukan perasaan. Tapi, aku tak mau melanggar takdir yang diberikan Tuhan. Aku hanya iri pada sisi itu, untuk hal lain, aku lebih suka jadi wanita.
Sekian pembicaraan dengan diriku malam ini. Mungkin ada banyak masalah yang belum bisa ku pahami, tapi aku harus berusaha. Next project, berusaha mempelajari "ilmu nriman". See you :)
*maaf jika tulisan ini terkesan ngawur atau mungkin kalian ngga paham karena penulis juga ngga paham. Those all just came up on my mind. Sorry*
Komentar
Posting Komentar