Hello, 2014 ! (Januari)

Hari ini tanggal 30 Desember 2014 pukul 22.35. Tinggal menghitung hari menuju pergantian tahun. Tahun 2014 adalah "tahun panas" bagi Indonesia karena tahun ini, Indonesia punya hajat besar yaitu pemilu. Bagiku pribadi, tahun 2014 bukanlah tahun yang istimewa. Bagaimanapun juga, setiap tahun pasti punya kesan tersendiri. Entah itu menyenangkan, menyedihkan, bahkan campur-campur. Kali ini, aku ingin flashback apa saja yang aku alami di tahun kuda kayu ini.
Di awal tahun 2014 selesai UAS semester 1, aku menerima kabar yang kurang menyenangkan. Ayahku masuk rumah sakit. Beliau menderita penyakit glukoma akut. Aku masih ingat ketika beberapa hari terakhir minggu tenangku, beliau mengeluh matanya sakit. Kupikir itu hanya iritasi atau hal sepele lain, namun aku salah. Keadaan semakin memburuk dan akhirnya ayahku memutuskan untuk memeriksakan matanya sendirian. Waktu itu, aku sedang berjuang melawan soal-soal UAS. Hari Sabtu aku pulang ke kampung halamanku. Aku dikabari tanteku kalau pamanku yang nanti akan menjemputku di terminal karena ayahku pusing. Aku tentu tak langsung percaya dengan alasan yang menurutku janggal. Dalam perjalanan menuju rumahku, paman bertanya, "Nduk, iki ning rumah sakit opo ning omah sek?" Aku tak mengerti pertanyaan pamanku. Aku bertanya, "Lha emang sing loro sopo, Om?" "Lho, bapakmu ning rumah sakit. Iki lagi operasi." Antara sedih dan gelisah perasaanku saat itu. Aku memutuskan untuk ke rumah sakit terlebih dahulu.
Sesampainya di kamar inap ayahku, hanya ada saudaraku yang sedang menonton televisi. Dia mengatakan bahwa ayahku masih ada di ruang operasi. Setelah kuletakkan tasku, aku segera menuju ruang operasi. Di depan ruang operasi, aku melihat teman-teman ayahku dan sanak familiku. Saat itu adalah salah satu saat yang sangat mendebarkan dalam hidupku. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat itu adalah berdoa. Satu per satu pasien keluar dari ruang operasi, namun tak kunjung kulihat ayahku keluar dari sana. Hingga akhirnya beliau keluar. Beberapa sanak famili dan aku langsung menuju kamar inap ayah. Sesampainya di sana, kucium tangan ayah dan bertanya tentang kondisinya. Dengan suaranya yang lirih, ayahku justru menanyakan bagaimana uasku. Saat itu aku ingin sekali menangis, tapi aku tak boleh menangis di depan ayahku. Ayahku pernah berkata, "Dek, nek adek sedih bapak yo melu sedih." Sejak saat itu, aku tak mau menangis di hadapan ayahku.
Aku mohon pamit ayahku untuk pergi takziyah ke rumah temanku. Temanku kehilangan "cinta pertama"nya. Sosok lelaki yang begitu menyayanginya telah pulang. Seusai takziyah dan mandi, aku kembali ke rumah sakit. Aku bermalam di sana. Kamar inap ayah ada di lantai tiga rumah sakit pemerintah. Ruang inapnya luas dan hanya untuk satu orang. Ada televisi, lemari yang cukup besar, kamar mandi, wastafel, pendingin ruangan, dan tempat duduk nyaman untuk tamu. Kelihatan nyaman bukan? Namun, menurutku, tak ada seorang pun yang ingin berlama-lama di rumah sakit walau fasilitasnya nyaman. Bagaimanapun, rumah tetaplah tempat ternyaman di dunia.
Ayah memang tipe orang yang penuh kejutan dan tak suka merepotkan orang lain. Ayahku pergi ke dokter hari Senin/Selasa aku lupa persisnya. Beliau disarankan untuk rawat inap di rumah sakit. Hari Rabu beliau ke rumah sakit untuk menanyakan kamar inap, lalu hari Kamis beliau mulai dirawat di rumah sakit. Beliau melakukan itu sendirian. Beliau menyiapkan segala keperluannya sendiri lalu datang ke rumah sakit untuk di rawat inap. Bahkan, pihak keluarga pun termasuk aku tak tahu akan hal ini sampai saat teman ayahku datang ke rumah. Beliau ada urusan dengan ayah, namun ayah sangat sulit dihubungi sehingga beliau datang ke rumah. Namun, beliau tak kunjung menjumpai ayah. Lalu, beliau bertanya pada pamanku yang juga adalah tetanggaku. Pamanku menjawab kalau ayahku sedang pergi berkemah karena sesaat sebelum pergi, ayahku mengatakan kalau akan berkemah. Teman ayahku tak percaya dengan jawaban itu, lantas menelpon ayahku. Ayahku menjawab beliau ada di salah satu ruangan rumah sakit. Dan ternyata ayahku dipaksa menyerah oleh glukoma akut.
Lima hari berada di rumah sakit membuat ayahku ingin segera pulang. Beliau sudah bosan berada di sana. Untunglah, hari itu ayah diizinkan pulang. Setelah mengurus administrasi dan obat-obat ayah, ayah diantar pulang oleh pamanku. Untung saja aku sudah melalui ujian akhirku sehingga aku bisa merawat ayah.
Dua atau tiga hari setelah kepulangan ayah, beliau memutuskan untuk kembali bekerja. Beliau memang orang yang gigih. Cuaca saat itu sangat buruk. Setiap hari hujan deras hingga menyebabkan kota tempat kelahiranku dikepung air dari segala sisi. Jujur, aku tak tega melihat beliau tetap bekerja dalam kondisi yang belum sehat total ditambah dengan kondisi cuaca yang buruk, tapi aku bisa apa?
Aku memilih untuk mengambil alih pekerjaan rumah. Membersihkan rumah adalah aktivitasku selama libur semester gasal. Hari yudisium pun tiba. Hari yang mendebarkan. Tengah malam kubuka hasil belajarku selama satu semester dan alhamdulillah membanggakan. Ip pertamaku yang aku niatkan sebagai kado untuk ayahku.
Awal tahun 2014 memang menjadi suatu titik balik dalam hidupku. Berkat kejadian ayahku sakit, aku semakin menyadari arti penting kebersamaan keluarga dan sosok seorang ayah yang sekarang sudah tak sekuat dulu. Aku mendapat pelajaran yang amat berharga di awal tahun. Hadiah tahun baru yang indah.

Komentar