DIALOGIS MONOLOGIS
Q : Siang itu, di ruang tamu. Ah tidak.
Beberapa kali, di berbagai tempat dan waktu. Beberapa kali aku memikirkan hal
ini. Pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab.
K : Pertanyaan apa?
Q : Setiap orang di dunia ini pasti
punya pertanyaan yang mengganggu pikiran mereka beberapa kali. Pertanyaan sepele,
namun butuh jawaban yang rumit.
K : Hey, sepele atau tidaknya kan
subjektif.
Q : Haha. Baiklah, aku ulangi. Setiap
orang pasti punya pertanyaan yang mengganggu pikiran mereka. Pertanyaan yang
menurutnya sepele tapi jawabannya tak sesederhana pertanyaan itu. Bagaimana?
K : Baiklah. Mulai saja ocehanmu.
Q : Kau, aku, dan orang-orang di dunia ini pasti punya
pertanyaan yang mengganjal di pikiran mereka. Pertanyaan itu bisa muncul karena
berbagai sebab. Bisa karena dia melihat sesuatu yang sederhana lalu dia
memikirkan apa yang dilihatnya dan timbullah pertanyaan mengganggu itu.
K : Bagaimana dengan kau? Apa
pertanyaanmu muncul karena kau “merenungi” sesuatu?
Q : Seringnya begitu. Tapi, untuk
pertanyaan kali ini karena tindakanku, sikapku, cara pandangku. Pertanyaan ini
muncul karena usia mungkin. Pertanyaanku adalah siapa aku?
K : Kau kan mahasiswa. Kau kan ...
Q : Ya, aku tahu. Bukan itu. Mahasiswa
itu statusku saja. Tapi status itu juga mempengaruhi sikap dan cara pandangku
sedikit banyak. Tapi, yang aku tanyakan adalah siapa aku?
K : Aku ngga ngerti.
Q : Aku akan bicara, jadi dengarkan.
Jangan kau potong. Oke?
K : Baiklah.
Q : Aku tak tau siapa aku. Maksudku,
kenapa aku bersikap begitu padahal aku tak ingin. Kenapa aku merasa kadang tak
bisa bebas mengekspresikan apa yang aku mau. Apa karena peranku di drama ini?
K : Drama?
Q : Kita hidup di dunia ini seperti
seorang aktor atau akrtis dalam sebuah drama. Kita punya banyak peran selama
kita hidup di dunia ini. Kita bermain dalam banyak cerita selama kita hidup.
Kita menjadi tokoh utama dalam cerita kita dan menjadi tokoh sampingan di
cerita orang lain. Dalam drama yang kita sebut sebagai kehidupan, kita berperan
sebagai anak, pelajar, teman, sahabat, kekasih, orang asing dan lain-lain.
Peran itu mempengaruhi cara kita bersikap terhadap orang lain. Jujur, kadang aku
lelah memainkan semua peran itu. Tak bisakah aku menjadi aku? Aku tanpa peran
menjadi orang lain untuk seseorang? Hanya menjadi diriku sendiri?
Orang-orang melihatku sebagai orang yang cuek, dingin, pintar, dan banyak lagi. Semua bergantung bagaimana mereka mengenalku dan bagaimana sikapku terhadap mereka. Namun mereka sepertinya tak benar-benar mengenalku. Aku bukan hanya aku. Aku tak bisa hanya jadi seorang yang cuek bukan? Aku juga seorang yang peduli hanya saja tak kutunjukkan pada semua orang. Ah, biarlah mereka menilaiku. Mereka bebas berpendapat tentangku. Aku tak perlu pusing dengan pendapat mereka. Toh aku juga sama dengan mereka. Menilai orang dari secuil apa yang aku lihat atau dengar.
Orang-orang melihatku sebagai orang yang cuek, dingin, pintar, dan banyak lagi. Semua bergantung bagaimana mereka mengenalku dan bagaimana sikapku terhadap mereka. Namun mereka sepertinya tak benar-benar mengenalku. Aku bukan hanya aku. Aku tak bisa hanya jadi seorang yang cuek bukan? Aku juga seorang yang peduli hanya saja tak kutunjukkan pada semua orang. Ah, biarlah mereka menilaiku. Mereka bebas berpendapat tentangku. Aku tak perlu pusing dengan pendapat mereka. Toh aku juga sama dengan mereka. Menilai orang dari secuil apa yang aku lihat atau dengar.
K : Kenapa kau tak biarkan orang-orang
itu mengenalmu dengan baik?
Q : Ah, aku ingin membuat hidup ini
menarik. Jika semua orang mengenalku dengan baik, aku tak akan tau siapa yang
bersungguh-sungguh dan siapa yang tidak. Aku membuat hidup ini lebih menarik
dengan bersikap acuh. Mungkin cara itu buruk menurutmu karena aku seolah
terlihat tak peduli dengan orang sekitarku. Tapi itu hanya kedok. Aku peduli.
Hanya saja, tak aku tunjukkan saja. Aku akan peduli ketika orang itu pantas
untuk kupedulikan dan kepedulianku sedang agak meningkat. Haha.
K : Bagaimana caramu mengklasifikasikan
orang yang pantas untuk kau pedulikan atau tidak?
Q : Itu mudah. Bersikap acuhlah,
lihatlah siapa yang tetap peduli padamu. Mereka yang peduli adalah mereka yang
patut kau jaga.
K :Bukankah kau pernah bilang untuk
selalu baik pada semua orang? Bersikap acuh kan ngga baik.
Q : Itu benar. Baiklah pada semua
orang, tapi bersikaplah lebih baik pada orang yang baik padamu.
K : Aku bingung.
Q : Ah, kau ini. Begini, acuh itu
sebagai kontrol dirimu. Kamu boleh baik terhadap orang, tapi jangan sampai
baikmu disalahartikan oleh orang lain. Peduli adalah sesuatu yang baik kan?
Tapi, jika kepedulianmu mulai disalahartikan orang, saat itulah kau harus
bersikap acuh.Orang lain bisa mengartikan kalau kau memberi harapan, kau mudah
dimanfaatkan dan sebagainya.
K : Tapi acuh kan berarti mengabaikan?
Q : Ya.
K : Lalu?
Q : Begini, acuh di sini maksudku pada
saat tertentu. Tapi, aku tak pernah punya keinginan untuk
acuh pada keluargaku
dan sahabatku. Tapi untuk sahabat, itu adalah sesuatu yang sulit karena sedikit
rumit memilah orang-orang yang datang di hidupmu untuk kau percayai sebagai
sahabat.
K : Ah, pertanyaan ini semakain
membuatku bingung saja.
Q : Ah, lupakan saja. Sepertinya
pertanyaanku hanya menambah pikiranmu saja. Intinya, aku belum mengerti benar
bagaimana sikapku, cara pandangku yang sebenarnya. Karena semua itu dipengaruhi
oleh peranku di dunia ini. Aku ingin berperan dengan baik, tapi kadang
peran-peran itu menghalangiku untuk menjadi aku. Menjadi diriku sendiri. Aku
mengerti sebagai manusia, kita pasti tidak bisa melepaskan peran itu selama
kita masih hidup. Kita hanya bisa melepaskan peran itu saat kita sendiri. Tapi itu
hanya sesaat. Karena kita tak mungkin sendiri terus menerus. Harus kuakui,
peran-peran itu yang membuatku hidup. Peran itu yang membuatku ada. Siapa aku?
Mungkin jawabannya berbeda-beda jika kutanyakan pada orang-orang. Ah, baiklah.
Aku mengerti sekarang. Aku adalah tokoh di dunia orang lain yang memiliki peran
yang berbeda untuk setiap cerita. Sikap, cara pandang, yang mempengaruhi peran
apa yang mereka berikan padaku. Amboi, macam artis saja aku haha.
K : Ah, kau selalu begitu..
Komentar
Posting Komentar